Pembangunan yang dilaksanakan diharapkan tidak melenceng dari Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) yang telah disusun. Luas wilayah Kota Kediri terbagi menjadi dua dimana wilayah dataran rendah terletak di bagian timur sungai meliputi Kec. Kota dan Kec. Pesantren, sedangkan dataran tinggi terletak pada bagian barat sungai yaitu Kec. Mojoroto dimana pada bagian barat sungai ini merupakan lahan kurang subur yang sebagian masuk kawasan lereng Gunung Klotok dan Gunung Maskumambang. Sejumlah sungai mengalir melintasi Kota Kediri, antara lain : Sungai Brantas, Kresek, Parang, Kedak dan Sungai Ngampel. Sumber-sumber air ini melimpah dan difungsikan untuk pengairan dan penyediaan air bersih serta sarana pariwisata. Sumber-sumber mata air yang ada  tersebar di Kec. Pesantren sebanyak 15 sumber, di Kec. Mojoroto sebanyak 7 sumber dan di Kec. Kota sebanyak 5 sumber. Untuk menjaga agar kelestarian debit airnya tetap terjaga, dilakukan konservasi di lingkungan sumber-sumber air yang ada.

žŸ Penyerahan Piala Adipura

Letak Kota Kediri yang strategis meski dengan Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang terbatas terletak dikawasan yang aman. Dari aspek topografi, Kota Kediri terletak pada ketinggian rata-rata 67 m diatas permukaan laut, tidak ada sedikitpun lahan kritis, bahkan kemiringan tanah yang ada di Kec. Kota dan Kec. Pesantren  paling  banyak  hanya berkisar 0-2%, terkecuali Kecamatan

Mojoroto yang memiliki kemiringan tanah >40%, tepatnya berlokasi di Kel. Pojok dan sebagian dari Kel. Sukorame. Kemiringan yang terjadipun dikarenakan lokasinya yang terletak di dataran tinggi menuju lereng Gunung Maskumambang.

Kota Kediri pada tahun 2008, 2009 dan 2010 telah berhasil meraih penghargaan Adipura sebagai kota terbersih dalam pengelolaan lingkungan perkotaannya. Demi meraih kembali prestasi tersebut, yang sempat meleset pada tahun 2011, tentunya diperlukan usaha pemerintah yang tidak lepas dari dukungan masyarakat. Agar tercipta Kota Kediri yang bersih dan asri, pemerintah dengan giat mengajak masyarakat menjaga lingkungan melalui GEMA BERSAHAJA (Gerakan Masyarakat Bersih, Sehat, Aman, Hijau dan Asri). Gerakan ini  menghimbau masyarakat

 

 

 

 

žŸ Kebun Bibit

agar menyediakan dua bak sampah untuk pemilahan, serta memanfaatkan pekarangan rumah untuk menanam tanaman produktif berupa sayur-mayur. Melalui gerakan ini diharapkan tidak hanya menciptakan lingkungan masyarakat yang lebih sehat, tertata, aman, hijau dan asri saja, namun juga dapat meraih kembali Penghargaan Adipura pada tahun yang  akan datang.

Pemerintah juga  mencanangkan  Pro gram Green and Clean, program yang mengacu pada kebiasaan hidup sehat dengan menjaga kebersihan dan menghijaukan lingkungan ini tidak hanya difokuskan pada lingkungan masyarakat, namun juga perkantoran di lingkup Pemerintahan Kota Kediri, sekolah-sekolah meliputi SD/MI, SMP, SMA dan 46 kelurahan yang ada di Kota Kediri.

Penilaian program green and clean dilakukan setiap tahun dalam rangka menumbuhkembangkan semangat peduli kebersihan lingkungan dan sebagai solusi untuk masalah persampahan pilah sampah dari rumah.

Disamping GEMA BERSAHAJA dan program green and clean, terdapat pula kader kebersihan di setiap kelurahan dengan masing-masing kelurahan memiliki 5 kader yang setiap bulannya mendapatkan insentif dari Pemerintah Kota Kediri. Diharapkan kader kebersihan tersebut dapat sebagai pelopor dalam kegiatan kebersihan di masing-masing kelurahannya.

žŸ TPA Pojok, Mojoroto

Dalam berbagai aspek kegiatan yang dilakukan masyarakat, tidak pernah terlepas dari limbah sampah yang dihasilkan. Sampah dapat menjadi sumber polutan jika pengelolaannya tidak tepat. Diperlukan upaya pengelolaan sampah yang tepat yakni dengan meningkatkan jumlah sampah yang terangkut dan meningkatkan kinerja pengelolaan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang ramah lingkungan (environmental friendly). Disamping itu diperlukan juga pembangunan dan pengelolaan drainase untuk membebaskan saluran-saluran drainase dari sampah agar dapat berfungsi optimal sebagai saluran air hujan dan mengurangi wilayah genangan.

Pada tahun 2011, daya tampung TPA di Kota Kediri sebesar 3.285.000 m³, sedangkan volume sampah yang terangkut sebanyak 121.189 m³. Menyadari belum terlaksananya perluasan lahan TPA di kawasan Klotok, maka Pemerintah Kota berupaya mengoptimalkan kinerja pengelolaan sampah, antara lain dengan :

  1. Memberikan penyadaran kepada masyarakat mengenai pentingnya 3R (Reduce, Reuse dan Recycle)
  2. Peningkatan kapasitas pemulung dan lapak, pengomposan yang berbasis masyarakat
  3. Pemilahan atau bahkan pengolahan sampah sejak dari hulu.

Sedangkan untuk mencegah terjadinya banjir, kualitas drainase ditingkatkan dengan melakukan normalisasi saluran, tanggul dan plengsengan serta pembersihan saluran drainase dari timbunan sampah. Panjang saluran drainase perkotaan yang berfungsi baik pada tahun 2011 mencapai  73.132 km atau 68,98% dari panjang saluran drainase keseluruhan sepanjang 106.022 km.

PERTANAHAN

Berdasarkan data dari Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kota Kediri tercatat bahwa luas wilayah Kota Kediri berdasarkan penggunaan tanahnya terbagi menjadi : lahan pemukiman seluas 2.723,199 Ha, lahan persawahan seluas 2.170,5031 Ha, Tegalan seluas 534,2979 Ha, tanah kosong seluas 63,68 Ha, hutan seluas 351,56 Ha dan lain-lain seluas 496,76 Ha. Tidak ada sedikitpun lahan kritis, bahkan seluruh permukaan tanah yang ada di Kota Kediri seluas 63,4 Ha diklaim aman.

Tanah yang bersertifikat di Kota Kediri terdiri dari Sertifikat Hak Milik (SHM), Sertifikat Hak Guna (SHG) dan Sertifikat Hak Pakai (SHP). Pada tahun 2011 banyaknya penerbitan Surat Keputusan Atas Tanah terdiri dari 116 SHM, 85 SHG dan 3 SHP dari 232 permohonan. Dibanding tahun 2010, terjadi kenaikan yang cukup signifikan sebesar 45,71%.