Secara geografis wilayah Kota Kediri terletak diantara 111º15´ – 112º03´ Bujur Timur  dan  7º45´ – 7º55´ Lintang Selatan, terbelah oleh Sungai Brantas yang mengalir sepanjang 7 Km dari selatan ke utara menjadi dua wilayah yaitu barat sungai dan timur sungai.

Total daratan Kota Kediri seluas 63,40 Km2, terbagi menjadi tiga Kecamatan yaitu:

⃝ Kecamatan Mojoroto,

⃝ Kecamatan Kota ;dan

⃝ Kecamatan Pesantren.
Secara administratif, Kota Kediri terbagi menjadi 3 kecamatan dan 46  kelurahan, yang pada tahun 2011 terdiri dari 85 lingkungan, 319 RW dan 1.417 RT.  Wilayah Kecamatan Kota meliputi 17 Kelurahan, 20 lingkungan, 99 RW dan 473 RT. Kecamatan Pesantren meliputi 15 Kelurahan, 29 lingkungan, 124 RW, dan 492 RT dan Kecamatan Mojoroto meliputi 14 Kelurahan, 36 lingkungan, 96 RW dan 452 RT.Wilayah barat sungai secara keseluruhan termasuk dalam wilayah Kecamatan Mojoroto dengan luas wilayah 24,60 km2, dan timur sungai sebagian termasuk dalam wilayah Kecamatan Kota dan Kecamatan Pesantren masing-masing dengan luas wilayah 14,90 km2 dan 23,90 km2.

Posisi Kota Kediri sangat strategis mengingat terletak di jalur lintasan Surabaya-Tulungagung, Blitar-Nganjuk dan Kabupaten Kediri-Nganjuk. Sehingga Kota Kediri dapat diibaratkan sebagai kuning telor pada telur ceplok, artinya Kota Kediri menjadi point of interest atau pusat pertumbuhan bagi daerah hinterlandnya. Sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Banyakan dan Semen, sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Wates dan Gurah, sebelah utara berbatasan dengan Kec. Gampengrejo dan sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Kandat dan Ngadiluwih.

Kota Kediri merupakan satu dari 2 daerah di Provinsi Jawa Timur yang memiliki gunung, yaitu gunung Klotok dan Maskumambang.  Berdasarkan ketinggiannya, Kota Kediri dapat dibagi menjadi :

a.   Wilayah Tanah Usaha Utama I c (WTUU Ic), dengan ketinggian 63-100 m di atas permukaan laut seluas 5.083 Ha (80,17%).

b.   Wilayah Tanah Usaha Utama I d (WTUU Id), dengan ketinggian 100–500 m dari permukaan laut seluas 1.257 Ha (18,83%).

Hal ini berarti mayoritas ketinggian wilayah Kota Kediri 80,17% berada pada ketinggian 63-100 m dari permukaan laut yang terletak sepanjang sisi kiri dan kanan Kali Brantas. Sedangkan wilayah tanah usaha I d terdapat di ujung sebelah barat dan sebelah timur Kota Kediri yaitu di sebelah Kelurahan Pojok, Sukorame, dan Gayam sedang di sebelah timur adalah Kelurahan Tempurejo, Bawang dan Ketami.

Untuk kemiringan, sebagian besar wilayah Kota Kediri merupakan dataran rendah dengan lereng antara 0 – 2% seluas 5,737 Ha atau 90,49%.Kondisi topografi wilayah relatif datar, yaitu pada kelerengan antara 0 s/d 40%. Ketinggian antara 15–40% berada di kawasan Gunung Maskumambang dan Gunung Klotok di bagian barat Kecamatan Mojoroto. Untuk Kecamatan Kota kondisi topografinya mayoritas berada pada kelerengan 0-2%.Untuk Kecamatan Pesantren kondisi topografi wilayah relatif datar, yaitu pada kelerengan antara 0 s/d 15%. Walaupun wilayah Kota Kediri memiliki kontur berbukit, hampir seluruh wilayah Kecamatan Pesantren berada pada kelerengan 0–2% atau dengan kata lain berada pada wilayah lembah. Wilayah Kecamatan Pesantren berada pada ketinggian lebih kurang 67 meter dpl.

Di Kota Kediri mengalir 5 sungai, yaitu Sungai Kresek di Kecamatan Pesantren sepanjang 9 km dan 4 sungai berada di Kecamatan Pesantren, diantaranya Sungai Parang sepanjang 7,5 km, Sungai Kedak 8 km, Sungai Brantas 7 km, dan Sungai Ngampel sepanjang 4,5 km.

Dari kelima sungai tersebut, yang terbesar dan terkenal sampai saat ini adalah Sungai Brantas, yang merupakan saluran primer dan mengalir dari arah selatan ke arah utara dan seolah-olah membelah Kota Kediri menjadi wilayah barat (Kecamatan Mojoroto) dan wilayah timur (Kecamatan Kota dan Kecamatan Pesantren).

Sungai Brantas merupakan legenda bagi masyarakat Kediri juga Propinsi Jawa Timur. Dari sungai ini pulalah perkembangan sejarah peradaban masyarakat Kediri bermula.

Di Kota kediri terdapat 21 sumber mata air, 7 diantaranya di Kecamatan Mojoroto dan 14 sumber di Kecamatan Pesantren, yang memiliki debit paling besar adalah sumber sendang (0-60 liter/detik) dan mata air Banteng (10 – 112 liter/detik). Potensi ini bisa mendukung kebutuhan air bersih penduduk sehari-hari seperti masak, cuci dan mandi.

Dari segi tutupan lahan, penggunaan Lahan di Kota Kediri di dominasi oleh lahan terbangun. Dominasi penggunaan lahan kepadatan tinggi adalah Kecamatan Kota dengan sebaran perkantoran, perdagangan jasa, industri, pemukiman kepadatan tinggi dan wisata kota. Penggunaan lahan untuk Kecamatan Mojoroto didominasi oleh pendidikan, home industri, pariwisata dan pertanian serta pemukiman kepadatan sedang dan rendah. Untuk Kecamatan Pesantren, dominasi penggunaan lahannya adalah perkantoran, industri, home industri, permukiman kepadatan sedang dan rendah serta pertanian. Selengkapnya dapat dicermati pada tabel 1.2 berikut.

Tabel 1.1  Tutupan Lahan Kota Kediri 2009

PENGGUNAAN LAHAN

LUAS (Ha)

MOJOROTO

KOTA

PESANTREN

TOTAL

Permukiman

687,17

486,60

468,29

1642,05

Perdagangan dan Jasa

56,13

69,39

23,44

148,96

Perkantoran

69,42

26,50

0,65

96,57

Pelayanan Umum

72,03

44,63

23,71

140,37

Industri dan Pergudangan

22,02

121,77

32,82

176,61

Pariwisata

1,99

3,15

1,02

6,15

RTH NON HIJAU

21,59

35,96

2,34

59,89

RTH

25,37

5,36

1,47

32,19

Peruntukan Sektor Informal

0,49

0,00

0,00

0,49

Pertanian

980,78

518,45

1586,51

3085,74

Ladang/Kebun Campur

268,19

120,60

250,07

638,87

Hutan

163,44

0,00

0,00

163,44

Kawasan Militer

12,34

12,99

0,00

25,33

Stasiun

0,00

0,05

0,00

0,05

TPA dan LPLT

1,10

0,00

0,00

1,10

Terminal

2,77

0,00

0,00

2,77

Sungai

75,29

44,55

0,00

119,84

Luas (Ha)

2460,10

1490,00

2390,30

6340,40

Sumber : Kota Kediri Dalam Angka 2008 dan Digitasi Citra Landsat 2007

 

Kondisi iklim Kota Kediri pada tahun 2011 dapat dijelaskan sebagai berikut : jumlah hari hujan di Kota Kediri menjadi 93 hari, lebih rendah dibanding tahun sebelumnya yang sebesar 155 hari. Disamping itu curah hujan mengalami penurunan dari 5.174 mm pada tahun 2010 menjadi 2.697  mm pada tahun 2011.

Jumlah Curah hujan tertinggi terjadi pada bulan Maret 2011 sebesar 604 mm dan bulan Januari sebesar 554 mm, sedangkan pada dua tahun sebelumnya (tahun 2010 dan tahun 2009) curah hujan tertinggi terjadi pada bulan Nopember 2010 dan Januari 2009 masing-masing 951 mm dan 449 mm. Bila pada tahun sebelumnya sepanjang tahun setiap bulan berturut-turut, yaitu Januari sampai dengan Desember 2010 di Kota Kediri selalu terjadi hujan tetapi pada tahun 2011 ini hujan tidak terjadi pada bulan Juni s.d. September 2011.